Sekarang ini, pihak pariwisata Kota Malang tengah gencar mendirikan banyak tempat wisata Malang bertemakan wana kampung wisata. Setelah sukses dengan jajaran kampung wisata seperti kampung warna-warni dan kampung tridi, kini kembali hadir kampung wisata Malang untuk keluarga bertajuk Kampoeng Heritage Kayutangan.

Yang membuat kampung ini berbeda dari kampung wisata lainnya di Malang adalah, Ia menonjolkan nilai sejarah lawas dari kampung tersebut. Yang jelas, kampung ini bisa dibilang kampung wisata yang vintage abis!

Kampung Kuno yang Masih Berusia ‘Muda’

Tempat Wisata Malang - Kampoeng Heritage Kayutangan via travelingyuk.com

Bulan April tahun lalu, Pemerintah Kota Malang secara resmi membuka Kampoeng Heritage. Letak tempat wisata ini berada di Jalan Basuki Rahmad, Kayutangan. Saat peresmian berlangsung, banyak ditampilkan barang-barang dari masa lalu seperti radio, televisi, alat makan jadul hingga makanan serta camilan tradisional. Peresmian tersebut melibatkan beberapa RT di Basuki Rahmad, Kayutangan yang merupakan jantung kota pada masa kolonial.

Bangunan khas kolonial di Kampoeng Heritage Kayutangan sedikit berbeda dengan rumah-rumah tua di Jalan Ijen. Bukan rumah mewah dengan halaman besar, sebagian besar hanyalah bangunan sederhana tapi berusia puluhan tahun.

Kabarnya, destinasi ini diklaim sebagai perkampungan ala kolonial yang masih terjaga dengan baik. Kini, wajahnya makin menarik setelah diperhatikan, dibersihkan dan dilakukan beberapa bangunan direstorasi.

Tak Memerlukan Biaya Tiket Masuk

Tempat Wisata Malang - Kampoeng Heritage Kayutangan via travelingyuk.com

Untuk bisa masuk tempat wisata Malang ini tidak dikenakan tiket masuk. Pintu masuknya banyak, karena perkampungan dengan gang sempit ini memiliki beberapa jalan yang bisa menembus ke perempatan Talun.

Di gang 6 terdapat rumah penghulu, rumah 1870 (diklaim sebagai rumah tertua yang masih tersisa), rumah jenki, hingga taman dolanan yang menawarkan permainan jadul, seperti gobak sodor dan congklak.

Setidaknya, tercatat ada 20-an rumah yang ditetapkan sebagai warisan budaya. Beberapa di antaranya sudah ditempeli plakat khusus. Desain rumah tersebut khas zaman kolonial dengan bentuk jendela dan pintu yang besar. Pagarnya juga unik yang bisa berfungsi sebagai dudukan. Selain rumah tua, ada pula makam Eyang Honggo Kusumo, salah satu pangeran keturunan Majapahit.

Banyaknya jalan kecil serta rumah tua dengan bentuk serupa membuat pengunjung sering kebingungan. Nah, jika Kamu liburan ke sini, sebaiknya menggunakan peta khusus. Atau meminta bantuan kepada warga kampung untuk menjadi penunjuk arah saat keliling kampung. Pasalnya, jika tanpa bantuan, kamu bakalan tersesat di tempat wisata Malang ini!