Oleh oleh Malang apa sih yang tergolong legendaris, klasik, dan tentunya disukai oleh semua orang? Jika kamu bertanya pada warga lokal Malang, jawabannya pasti langsung tertuju pada lokasi lapak Puthu Lanang Malang.

Tempat oleh oleh Malang yang satu ini adalah spesialis aneka jajanan pasar tradisional seperti Putu, Klepon, Cenil, hingga Lopis. Semuanya akan ditaburi dengan parutan kelapa gurih dan diguyur oleh saus gula merah yang kental nan legit.

Kue Puthu yang Menggugah Selera

Oleh Oleh Malang - Puthu Lanang via travelingyuk.com

Sebelum membahas kisah Puthu Lanang Malang, ada baiknya kita ulas sedikit mengenai keunikan puthu. Apalagi kue ini memang sudah tak asing bagi sebagian besar lidah masyarakat Indonesia.

Terbuat dari tepung beras, gula merah, dan kelapa, jajanan tradisional ini sanggup memanjakan lidah dalam sekejap. Isian gula merahnya memberikan sensasi manis, berpadu apik dengan gurihnya kelapa. Terbayang kan betapa mantapnya kue oleh oleh Malang ini?

Meskipun di beberapa daerah disajikan dengan cara berbeda, pembuatan kue puthu tak pernah berubah dan punya kekhasan tersendiri. Di tengah-tengah proses pembuatan kue, uap yang keluar lewat celah di bilah bambu akan menimbulkan suara unik.

Sejarah Singkat Berdirinya Puthu Lanang Malang

Oleh Oleh Malang - Puthu Lanang via travelingyuk.com

Puthu Lanang telah ada sejak tahun 1935. Didirikan oleh seorang wanita bernama Supiah. Memiliki suami polisi, Supiah berinisiatif membantu sebagai mata-mata sembari berjualan puthu.  Sejak saat itu, puthu menjadi usaha keluarga yang diteruskan hingga kini.

Uniknya, putra-putra Supiah sebenarnya siap meneruskan usaha berjualan puthu. Namun demikian, Sang Ibunda hanya ingin mewariskan bisnisnya ke Siswoyo. Salah seorang buah hatinya tersebut dianggap memiliki bakat besar dalam berdagang.

“Kalau saya gak mau berarti ya gak ada yang meneruskan. Sedangkan saya berpikir dari kecil hingga saya beranjak besar, saya dan keluarga saya dihidupi oleh kue puthu,” ungkap Siswoyo.

Siswoyo sendiri saat itu sudah memiliki pekerjaan lain, hingga ia harus dipaksa lebih dulu oleh Supiah untuk meneruskan usaha puthu. Setelah memutuskan menerima tawaran Sang Bunda, ia lantas memilih berhenti dari pekerjaan yang kala itu digelutinya.

Pelanggan setia Puthu Lanang Celaket berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang-orang Tionghoa, warga lokal Malang, hingga pelancong yang mampir ke Kota Bunga.

Hingga kini jajanan legendaris yang juga jadi oleh oleh Malang ini masih diserbu banyak pelanggan setianya. Luar biasa, terutama jika mengingat sudah 81 tahun lamanya Puthu Lanang Celaket berdiri. Meski sudah melewati beberapa dekade, mereka masih mampu mempertahankan eksistensi dan kesuksesan.