Bicara soal makanan khas Jawa Timur, yang pastinya kamu tak hanya terpikir soal makanan yang ada di Surabaya atau Madura. Kamu juga harus memperluas wawasan khasanah kuliner Jawa Timurmu dengan mengetahui kuliner khas asli kota Malang.

Kota Malang sendiri sudah terkenal dengan aneka panganan hingga oleh oleh khas Jawa Timur –nya yang mantap betul. Seperti pada kesempatan kali ini, kamu bakal mengenal lebih jauh sebuh kuliner legendaris khas Bumi Arema yang bertajuk Sate Gebug.

Bukan Berasa dari Budaya Asli Jawa

Makanan Khas Jawa Timur - Sate Gebug via travelingyuk.com

Sate biasanya hadir dalam rupa potongan daging dibumbui, ditusuk menggunakan lidi atau bambu, sebelum kemudian dibakar.  Kata ‘satai’ sendiri konon berasal dari Bahasa Tamil. Satai atau sate diperkirakan mulai dikenal di Indonesia pada Abad ke-19 sebagai makanan yang dijajakan di jalan. Menu ini mendapat pengaruh budaya Timur Tengah dari pendatang muslim Tamil dan Gujarat.

Awalnya bahan yang digunakan untuk makanan khas Jawa Timur ini adalah daging kambing favorit para warga keturunan Arab. Seiring berjalannya waktu, muncul sate ayam, sapi, kerbau, ikan, dan sate lainnya.  Indonesia sendiri memiliki kurang lebih 30 jenis sate. Masing-masing mengusung kekhasan sendiri, seperti Sate Ponorogo, Sate Madura, Sate Maranggi, Sate Ondomehen, dan masih banyak lagi.

Setiap daerah memang punya sate dengan ciri masing-masing. Kota Malang misalnya, punya ‘sate komoh’ dan Sate Gebug 1920.  Sate Komoh adalah sate daging dengan balutan bumbu merah. Potongannya berbentuk kotak dengan ukuran cukup besar. Sementara sate gebug adalah salah satu sate legendaris yang dirintis sejak 1920.

Arti Nama dan Sejarah Singkat Sate Gebug

Makanan Khas Jawa Timur - Sate Gebug via travelingyuk.com

Nama Sate gebug 1920 terinspirasi dari proses pembuatan dan tahun awal dibukanya kedai.  Gebug dalam Bahasa Jawa memiliki makna dipukul.  Daging sebagai bahan utama sate sebelumnya dipukul-pukul agar empuk saat dimakan. Dilihat dari wujud dan cara masaknya, sate ini bisa dibilang merupakan perpaduan antara Sate Buntel khas Solo dan Sate Komoh khas Malang.

Achmad Kabir, pengelola kedai Sate Gebug 1920, mengatakan sate ini lahir di tengah-tengah zaman kolonial. Kakek buyutnya yang keturunan Malang menikah dengan nenek buyutnya, gadis asal Pasuruan. Mbah Yahmun dan pasangannya, Karbo Ati, kemudian sempat menetap di Solo.

Keduanya lantas terinspirasi membuat makanan khas Jawa Timur berupa sebuah sate anyar, perpaduan antara sate buntel dan komoh. Tak hanya cara pembuatan, bahan dan bumbu khas kedua sate tersebut juga dipadupadankan hingga jadi kombinasi sempurna. Dari manisnya Sate Buntel dan pedasnya Sate Komoh, lahirlah Sate Gebug dengan bumbu kecap yang khas.